Universitas Pahlawan Gelar Workshop AI-Powered Learning, Dorong Inovasi Guru di Era Pendidikan Digital
universitaspahlawan.ac.id – Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai (UP) menggelar Workshop AI-Powered Learning: Strategi Inovasi Guru di Era Pendidikan Digital di Aula Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Senin, 19 Desember 2026.
Kegiatan ini langsung dihadiri Assoc. Prof. Dr. Wida Rianti S.Pd, M.Pd, Kepala Pusat Bahasa Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Wanda Lasepa, S.Gz., M.Gz, Plh. Ketua Lembaga Kerja Sama Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Sekretariat dalam dan luar negeri beserta staf Lembaga Kerja Sama Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai.
Kepala Pusat Bahasa Universitas Pahlawan, Assoc. Prof. Dr. Wida Rianti, S.Pd., M.Pd, Menyampaikan bahwa Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesiapan pendidik dalam memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) secara bijak dan bertanggung jawab di dunia pendidikan.
Workshop tersebut menghadirkan dua narasumber kompeten, yakni Jan Nadermeijer, Ex-PUM Netherlands Senior Expert, serta Chandra Alfindodes, M.Pd, praktisi pendidikan Bahasa Inggris, presenter, dan peserta program Teacher Exchange Indonesia–Korea.
Dalam pemaparannya, Jan Nadermeijer menjelaskan bahwa Artificial Intelligence, khususnya Generative AI, telah menjadi bagian nyata dalam pendidikan tinggi. Menurutnya, banyak mahasiswa dan dosen saat ini memanfaatkan AI untuk mencari informasi, menulis dan merangkum materi, memahami konsep yang kompleks, hingga merancang pembelajaran.
“Pendekatan melarang AI sepenuhnya sudah tidak realistis. Yang dibutuhkan adalah pemahaman, pengawasan, dan penggunaan AI secara bertanggung jawab,” ujar Jan Nadermeijer.
Ia menegaskan bahwa AI bukanlah pengganti manusia. AI bekerja berdasarkan pola dan probabilitas, bukan pemahaman seperti manusia. Oleh karena itu, AI tetap berpotensi menghasilkan kesalahan, bias, maupun hallucinations—jawaban yang terlihat meyakinkan namun keliru. Untuk itu, kemampuan berpikir kritis, verifikasi, dan penilaian manusia tetap menjadi kunci utama.
Jan Nadermeijer juga memaparkan bahwa implementasi AI dalam pendidikan sebaiknya dilakukan secara bertahap, mulai dari peningkatan kesadaran akan kemampuan dan keterbatasan AI, pemahaman serta eksperimen terkontrol, integrasi terstruktur dalam pembelajaran dan asesmen, hingga penerapan di tingkat institusi dengan kebijakan yang jelas dan bertanggung jawab.
Selain itu, penggunaan AI dalam pendidikan harus memperhatikan sejumlah aspek penting, seperti kualitas pembelajaran, integritas akademik, privasi dan keamanan data, hak cipta, etika, serta kesesuaian dengan tujuan pembelajaran.
Dalam konteks asesmen, Jan menekankan perlunya pembedaan antara ujian yang aman dan terawasi tanpa penggunaan AI untuk memastikan penguasaan individu, serta tugas pembelajaran berbasis AI yang bertujuan mengembangkan keterampilan berpikir kritis, refleksi, dan literasi AI dengan aturan yang transparan.
Sementara itu, bagi mahasiswa, AI diharapkan digunakan sebagai alat bantu belajar dan berpikir, bukan sebagai pengganti usaha intelektual. Bagi dosen dan institusi pendidikan, AI dinilai sebagai peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, asalkan diterapkan secara sadar, etis, dan terencana.
Workshop ini menegaskan pesan utama bahwa AI harus digunakan secara cerdas, kritis, dan bertanggung jawab, dengan manusia tetap memegang kendali penuh atas proses pembelajaran, penilaian, dan pengambilan keputusan di dunia pendidikan.