Universitas Pahlawan Tampil di RRI Pro 2 Pekanbaru, Bahas Peran Teknologi dalam Pendidikan

universitaspahlawan.ac.id — Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai (UP) bersama mitra UP yang merupakan Ex-Senior PUM Expert Jan Nadeimejer, tampil sebagai narasumber dalam program siaran RRI Pro 2 Pekanbaru, guna mempromosikan Universitas Pahlawan sekaligus membahas pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan, di Pekanbaru, Rabu , 21 Januari 2026.

Kehadiran Universitas Pahlawan dalam siaran Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 2 Pekanbaru tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kampus kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda, sekaligus memberikan edukasi mengenai pentingnya adaptasi teknologi di sektor pendidikan.

Dalam perbincangan tersebut, Plh. Ketua Lembaga Kerja Sama Universitas Pahlawan Wanda Lasepa, S.Gz., M.Gz menyampaikan komitmen kampus dalam mengembangkan sistem pembelajaran berbasis teknologi, baik melalui penggunaan platform digital, pembelajaran daring, maupun penguatan literasi digital bagi mahasiswa dan dosen.

Selain itu, dibahas pula peran teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas akses pembelajaran, serta menciptakan inovasi akademik yang relevan dengan kebutuhan zaman. Universitas Pahlawan terus mendorong pemanfaatan teknologi secara bijak dan berkelanjutan demi mencetak lulusan yang kompeten dan berdaya saing.

Melalui siaran di RRI Pro 2 Pekanbaru, Universitas Pahlawan berharap dapat menjalin komunikasi yang lebih luas dengan masyarakat, sekaligus memperkuat citra kampus sebagai perguruan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia pendidikan saat ini.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari strategi Universitas Pahlawan dalam meningkatkan publikasi dan branding institusi, serta memperkenalkan program studi, fasilitas, dan visi kampus dalam mendukung transformasi pendidikan di Provinsi Riau.

Sementara itu mitra UP yang merupakan Ex-Senior PUM Expert Jan Nadeimejer menjelaskan bahwa Artificial Intelligence, khususnya Generative AI, telah menjadi bagian nyata dalam pendidikan tinggi. Menurutnya, banyak mahasiswa dan dosen saat ini memanfaatkan AI untuk mencari informasi, menulis dan merangkum materi, memahami konsep yang kompleks, hingga merancang pembelajaran.

“Pendekatan melarang AI sepenuhnya sudah tidak realistis. Yang dibutuhkan adalah pemahaman, pengawasan, dan penggunaan AI secara bertanggung jawab,” ujar Jan Nadermeijer.

Ia menegaskan bahwa AI bukanlah pengganti manusia. AI bekerja berdasarkan pola dan probabilitas, bukan pemahaman seperti manusia. Oleh karena itu, AI tetap berpotensi menghasilkan kesalahan, bias, maupun hallucinations—jawaban yang terlihat meyakinkan namun keliru. Untuk itu, kemampuan berpikir kritis, verifikasi, dan penilaian manusia tetap menjadi kunci utama.

Jan Nadermeijer juga memaparkan bahwa implementasi AI dalam pendidikan sebaiknya dilakukan secara bertahap, mulai dari peningkatan kesadaran akan kemampuan dan keterbatasan AI, pemahaman serta eksperimen terkontrol, integrasi terstruktur dalam pembelajaran dan asesmen, hingga penerapan di tingkat institusi dengan kebijakan yang jelas dan bertanggung jawab.

Selain itu, penggunaan AI dalam pendidikan harus memperhatikan sejumlah aspek penting, seperti kualitas pembelajaran, integritas akademik, privasi dan keamanan data, hak cipta, etika, serta kesesuaian dengan tujuan pembelajaran.